Pecinta Burung Lovebird Indonesia

Penanganan Lovebird Egg Binding

Penanganan Lovebird Egg Binding
Egg Binding adalah salah satu momok yang menakutkan untuk para breeder tanah air, karena jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan serius dapat mengakibatkan kematian. kenapa bisa demikian ?? 

Umumnya Egg Binding terjadi ketika telur yang tidak bisa keluar atau indukan lovebird tidak mampu mengeluarkan telur tersebut. sehingga telur tertahan di dalam perut betina lovebird. kondisi ini mengakibatkan burung menjadi lemas. jika dalam waktu lama telur tidak dikeluarkan ini akan sangat mengganggu kesehatan lovebird tersebut, bahkan jika dalam kondisi terburuk yaitu telur pecah di dalam sehingga mengakibatkan inveksi, hal ini lah yang bisa mengakibatkan kematian indukan.
penanganan lovebird egg binding
Lantas jika indukan kita mengalami egg binding apa yang harus kita lakukan ?? apakah dibiarkan begitu saja atau adakah penangan khususnya ??

Penanganan yang dilakukan umumnya untuk lovebird yang mengalami Egg Binding adalah sebagai berikut :

1.   inject (suntikan) minyak sayur / olive oil yang bersih sebanyak 0.5 ml ke kloaka (dubur), usap perutnya dengan minyak tawon, masukan kandang, kerodong dan dikasih lampu pemanas
inject menggunakan spuit / spet 1 ml tanpa jarum.masukan ujung spet 1-2 ml melalui kloaka / dubur, spet pelan pelan
2.   Siapkan juga air minum berupa  larutan elektriolit bervitamin ( misal Ganavit, FoerteVit atau merk apapun)
3.   Jika 1 x 24 jam , telur tidak keluar, ulang no 1. dan diurut pelan – pelan agar telur kluar. hati hati telur jangan sampai pecah

Jika telur pecah di dalam, kloaka akan terluka dan mudah terinfeksi terlebih lagi pada kasus Egg Binding burung dalam kondisi stress berat dan lemah luka / pendarahan  pada saluran kloaka akan sangat mudah menyebabkan infeksi kuman yang berasal dari usus

Semakin cepat kita mengetahui gejala Egg Binding semakin mudah penanganannya dan semakin kecil pula resiko-nya. Semoga dapat membantu.

Tetap semangat dalam Breeding Lovebird

Salam Breeder Lovebird Lover



Sumber : Fans Page Facebook Lovebirds Lover Balikpapan-East Borneo
https://www.facebook.com/notes/lovebirds-lover-balikpapan-east-borneo/egg-binding-penanganan-egg-binding/201943769955996/

About Par Blue Genetic by Mr Sam Gibb

About Par Blue Genetic by Mr Sam Gibb
It's not possible to truly understand parblue genetics
until one understands how multiple alleles work.
It's a lot to explain in a post.
There's a nice article about the bl locus
in the next 'Agapornis Magazine' from the BVA. 
For the sake of "easier to understand"
I'll call parblue turquoise, which it is.
parblue

Turquoise x turquoise =100% turquoise
Turquoise x green =100% green/turquoise

Turquoise x green/turquoise =
50%chance turquoise
50% chance green/turquoise

Turquoise x green/blue =
50% chance green/turquoise
50% chance TurquoiseBlue

Green/turquoise x green/turquoise =
50% chance green/turquoise
25% chance turquoise
25% chance green 

Green/turquoise x green/blue =
25% chance green/blue
 25% chance green/turquoise
 25% chance TurquoiseBlue
25% chance green

Turquoise x blue =
 100% TurquoiseBlue

TurquoiseBlue x green =
 50% chance green/turquoise
50% chance green/blue
TurquoiseBlue x blue =
50% chance TurquoiseBlue
50% chance blue
TurquoiseBlue x green/blue =
25% chance green/turquoise
25% chance green/blue
25% chance TurquoiseBlue
25% chance blue

TurquoiseBlue x green/turquoise =
25% chance green/turquoise
25% chance green/blue
25% chance TurquoiseBlue
25% chance turquoise

TurquoiseBlue x TurquoiseBlue =
50% chance TurquoiseBlue
25% chance turquoise
25% chance blue

That's virtually all the outcomes possible involving the turquoise(parblue) mutation,
as well as combinations with blue.

Nama Nama Mutasi Roseicollis / Muka Salem

Nama Nama Mutasi Roseicollis / Muka Salem
Standar penamaan internasional jenis2- mutasi lovebird Agapornis Roseicollis:
(istilah-2 lama tidak dipakai disini agar satu bahasa dan seragam)

versi Juli 22, 2013
Ditulis oleh Lawrence Oei utk grup LNKI, dilarang mengkopi sebagian atau seluruh dokumen ini dalam bentuk apapun untuk tujuan komersial.

GREEN = Hijau
Hijau standar, alias wildtype / WT. Terbanyak ditemukan di alam bebas. Topeng berwarna peach (saya tidak tahu Indonesia-nya apa ini, jambon? merah muda tua?), body hijau, sayap terbang hitam dan bulu pantat biru.
Muka Salem hijau
TURQOISE = Biru muka putih
Biru a'la non-klep, dengan muka putih dgn bando oranye minim (10-15% masih ada), dan badan kebanyakan biru dgn sedikit aksen kehijauan. Karena psitacin, penyebab warna oranye/kuning, masih tersisa 10-15%, biru tipe ini disebut"Par-Blue", bukan biru sesungguhnya seperti di tipe kacamata (di mutasi kacamata psitacin hilang 100%)

AQUA = Hijau muka putih
Satu keluarga dengan mutasi biru, tapi dengan muka putih berbando oranye karena psitacin hilang sekitar 50% saja. Juga warna bodi kehijauan.

AQUATURQOISE = Muka putih dengan kombinasi dua diatas
Jika Aqua ditemukan dengan Turqoise, hasilnya adalah AquaTurqoise, yang berwarna diantara kedua mutasi ini, kadang bando oranye ada, kadang tidak ada. Tidak disarankan untuk digabung

DOMINANT PIED = Blorok dominan
Burung dengan pola belang-2, jika pada burung hijau akan keluar hijau dan kuning pada body, hitam dan putih pada sayap. Pada burung biru bisa keluar hijau, biru dan putih pada body dan sayap

RECESSIVE PIED = Blorok recessive
Burung dengan pola belang, meskipun berbeda dengan pola jika jenis dominan. Kebanyakan polanya adalah belang 'besar', jadi satu burung belangnya hanya dua, dengan dominan kuning berbelang kecil2 hijau pada ujung bodinya. Jarang ditemui di Indonesia

INO = Lutino
Burung kuning dengan topeng muka merah, ujung sayap & ekor putih, bermata merah. Terjadi di burung hijau yang kehilangan zat eumelamin 100%

PALLID
Burung kuning semu hijau, terjadi karena hilangnya eumelamin 60% pada seekor burung. Sayap terbang berwarna abu-abu muda. Bulu pantat juga terpengaruh sehingga berwarna biru muda. Topeng muka tetap peach. Kaki dan jari2 kaki dan kuku juga berwarna merah muda. Piyik/anak pallid terlahir dengan mata merah yang akan berubah menjadi coklat setelah kurang lebih seminggu

CINNAMON
Burung hijau bersemu coklat muda, terjadi karena eumelamin yang ada termodifikasi dengan hasil warna yang seharusnya hitam berubah menjadi coklat. Ciri utama adalah sayap terbang yang coklat. Kaki dan jari2 kaki juga berwarna merah muda. Piyik/anak cinnamon terlahir dengan mata merah yang akan berubah menjadi coklat setelah kurang lebih seminggu

BRONZE FALLOW
Burung ini hampir sama penjelasan dengan cinnamon, kecuali dimana cinnamon warna menjadi coklat, di burung ini menjadi coklat ke-abu2-an. Mata burung ini adalah merah, dan kaki berwarna merah muda. Bulu pantat menjadi biru busam

PALE FALLOW
Hampir sama dengan bronze fallow cuman lebih pucat lagi. Dua-dua tipe fallow jarang ditemui di Indonesia.

MARBLED
Di burung marbled terjadi pengurangan melamin di bagian sayap utama dan sayap terbang, yang menjadi belang, sekali di bagian sayap utama, dan sekali di bagian sayap terbang. Juga terjadi pengurangan warna di seluruh tubuh hingga warna tubuh bisa disetarakan dengan warna pastel. Kaki dan kuku berwarna abu2 muda.

ORANGEFACE
Burung hijau yang bertopeng oranye, semua ciri yang lain sama dengan burung hijau standar.

DILUTE
Burung dengan eumelamin yang berkurang 80-90%. Jadinya adalah burung yang hampir kuning dengan pantat biru muda. Kaki, sayap terbang juga menjadi abu2 muda. Jarang ditemui di Indonesia.

PALE HEADED
Di mutasi ini topeng burung menjadi merah muda dengan aksen oranye dan warna hijau di tubuh berubah mendekati warna aqua. Jarang ditemui di Indonesia

OPALINE
Mutasi dimana topeng warna yang sebelumnya hanya ada di bagian depan muka menjadi berputar ke belakang dengan warna yang sama. Di telinga juga ada lingkaran kecil bulu yang keabu2an. Bulu ekor juga berubah warna dimana bagian tengahnya akan mengikuti warna topeng burung yang ada

DARK FACTOR
Mutasi dimana terjadi perubahan struktur pada bulu sehingga warna yang dipantulkan berubah menjadi lebih gelap.

VIOLET
Mutasi dimana warna biru yang ada berubah menjadi violet

Inilah semua mutasi-2 standar dengan nama standar internasional di burung lovebird spesies Agapornis Roseicollis / Peachface Lovebird / Non-klep. Tentunya dari berbagai mutasi standar yang ada ini bisa digabung antara dua atau lebih mutasi sehingga akan menghasilkan berbagai jenis kombinasi mutasi, contoh: OLIVE ORANGEFACE, LUTINO OPALINE, PIED VIOLET, dst dstSemoga bisa membantu dan selamat menikmati. Salam untuk om Yunan Helmi yang mendorong saya untuk menulis ini :P


Sumber :
https://www.facebook.com/notes/lovebird-non-klep-indonesia-lnki/nama2-mutasi-roseicollis/420136911435397

Perbedaan Lovebird Muka Salem / Agapornis Roseicollis Non Opaline vs Opaline

Perbedaan Lovebird Muka Salem / Agapornis Roseicollis Non Opaline vs Opaline
Perbedaan Lovebird Muka Salem / Agapornis Roseicollis Non Opaline vs Opaline berdasarkan grup facebook Lovebird Non Klep Indonesia Malang

orange face ino opaline

dominant pied dark green opaline

DD Green opaline

aquaturquoise opaline

pallid aqua opaline

lutino opaline

green opaline

dominant pied dd aqua opaline

aqua ino opaline

Orange face D green opaline






sumber :
https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.655843231198096&type=1

sekilas cara pengiriman burung Lovebird antar pulau

sekilas cara pengiriman burung Lovebird antar pulau
Ketika Lovebird sudah menjadi sebuah komoditi usaha yang dibilang sexi maka otomatis pasarnya pun akan semakin luas. jika awalnya kita hanya menjual kepada tetangga tetangga sekitar rumah tapi kini tidak menutup kemungkinan kita bisa menjual lovebird ke luar kota bahkan ke luar pulau karena faktanya pecinta burung paruh bengkok ini sudah menyebar ke berbagai daerah di tanah air.

Lantas bagaimana cara mengirimkan lovebird ke luar pulau?? karena lovebird adalah makhluk hidup tidak mungkin dong dikirim menggunakan jasa kirim barang seperti JNE, POS, TIKI dsb....
Jika dipaksakan menggunakan jasa tersebut burung sih mungkin bisa sampai tujuan tapi sudah dalam bentuk bangkai,, hehehe. lantas bagaimana cara mengingim lovebird ke luar pulau ??

SEKILAS cara pengiriman burung Lovebird antar pulau:
  • minta pengantar dari dinas Peternakan setempat (tarif tergantung kebijakan setempat)
  • bawa pengantar ke kantor Karantina Hewan di Bandara adakalanya burung yg mau dikirim hrs dibawa/di perlihatkan (Tarif tergantung kebijakan setempat )
  • dibawa via bagasi penumpang (pemilik terbang dg pesawat yg sama & burung masuk bagasi penumpang) burung dibawa cek in - tunjukan surat Karantina burung masuk bagasi (umum nya Max 2 ekor saja) pada saat sampai ditujuan bayar retribusi release di Karantina tujuan (tarif sesuai ketentuan setempat)
Via Cargo
  • jangan lupa tanyakan ke cargo minimal charge
  • umumnya per 10 kg pertama, port to port
  • serahkan burung ke Expedisi Cargo + Surat Karantina
  • ambil di bandara tujuan di terminal cargo
  • release di Karantina setempat
  • tanyakan packing yg dipersyaratkan penerbangan ada yang minta kotak/peti kayu, ada g boleh pake kandang besi, dst 
sebaiknya surat surat diurus 2-3 hari sebelum terbang kalo perlu booking Cargo.
jalur resmi tidak sulit selama kita mau ikut aturan, klo mau mudah cari orang kargo yang biasa urus surat
(burung langka / CITES sebaiknya tidak usah antar pulau, malah bisa disita)
semoga manfaat
Salam Sukses Selalu

sumber : Lovebirds Lover Balikpapan-East Borneo


Waktu yang tepat untuk meloloh piyik lovebird

Waktu yang tepat untuk meloloh piyik lovebird
Selama malam sobat LoveBird Lovers lama tidak posting status sekedar mengingatkan saja tentang berapa sering kita harus HF anakan lovebird. Makin muda akan makin sering dilakukan, saya sering sampaikan secara alami indukan akan meloloh anak nya ketika tembolok anakan mulai kosong atau kosong sama sekali (pagi hari). Selama siang hari indukan akan terus mencari makan dan meloloh anak-nya, indukan akan berhenti ketika tidak ada lagi yang bisa dilolohkan. ini terjadi karena hari sudah gelap jadi di malam hari indukan tidak meloloh anaknya terbukti pada pagi hari tembolok anakan (yang sehat ) akan tampak kempes alias kosong kemudian.
Waktu yang tepat untuk meloloh piyik lovebird
Kenapa koq ada LoveBird lover yang sampe begadang hanya untuk meloloh anakan ? sebegitu repotnya kah aktivitas meloloh ? sebegitu dramatiskah ?
  • sejatinya tidak serepot itu, yang saya lakukan untuk anakan yang saya angkat dibawah 14 hari bisa mulai HF jam 6 pagi, selang 2-3 jam atau ketika tembolok 1/2 kosong dan terakhir jam 8-9 malam, dengan adonan HF relatif encer.
  • Untuk anakan 14 hari & up cukup sehari 3 x sehari saja, pagi, siang & sore atau malam bisa mulai jam 6-8 pagi, 12-14 siang dan terakhir 7-9 malam dengan adonan HF relatif kental
jadi tidak pernah saya lakukan sampai subuh, kurang tidur ganggu aktivitas kita yang lain. itu yang sy lakukan, semoga bermanfaat buat LoveBird lover

untuk bubur lolohannya sendiri kita bisa membelinya ditoko burung terdekat atau bisa juga membuat sendiri, adapun racikan untuk bubur lolohannya akan saya share di postingan berikutnya.

Catatan : untuk bubur lolohan diusahakan dibuat encer dan tidak terlalu kental, semakin muda usia piyik maka semakin encer pula adonan bubur lolohannya. usahakan selalu memberi makan piyik saat tembolok benar benar kosong karena jika masih ada makanan lalu kita paksakan isi lagi dengan alasan mumpung sempat, sebenarnya agak berbahaya karena makanan yang belum tercerna sempurna lalu ditambah lagi bisa berakibat makanan tersebut mengendap didalam tembolok piyik yang nantinya akan mengganggu sistem pencernaan piyik itu sendiri.


Happy Breeding , Happy Birding ,....:D


Sumber : Fans Page Facebook Lovebirds Lover Balikpapan-East Borneo
https://www.facebook.com/Lovebirds-Lover-Balikpapan-East-Borneo-116341295182911/

Memahami Struktur Bulu pada Lovebird

Memahami Struktur Bulu pada Lovebird
Tahu kah anda seberapa penting memahai feather structure alias struktur bulu pada setiap spesies Lovebird ? Dengan memahami struktur bulu anda akan lebih mudah memahami ciri ciri dari berbagai macam macam ciri lovebird hybrid. Pada hari Sabtu tanggal 13 Mei 2017, Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) mengundang Dirk Van den Abeele peneliti, penghobi dan penulis buku dari Belgia sebagai pembicara dalam Seminar yang temanya bertajuk Mutasi Opaline dan Fallow pada Lovebird
Memahami Struktur Bulu pada Lovebird
Nah, dari salah satu slide presentasi yang paling bikin saya “melek mata” adalah penjelasan tentang struktur bulu pada burung lovebird Fischeri dan Personatus. Pada struktur bulu Green Fisheri pada bagian muka terdapat pigmen psittacin (Psittacin: Pigmen orange, kuning, merah). Faktanya adalah tidak ada pigmen Psittacin yang berwana merah pada struktur bulu pada bagian muka lovebird Fischeri tetapi yang ada adalah pigment Orange (bukan Merah) . Sedangkan pada lovebird spesies Personatus pada bagian mask atau topeng terdapat pigmen psittacin yang berwana merah dan eumelanin. Nah ,dari sinilah terjawab sudah kenapa Lovebird Fischeri untuk burung show atau beauty contest yang dulu kita mememilih burung burung dengan warna bagian muka, dagu dan dada berwarna merah akhirnya bergeser ke orange pekat pada jidat, dagu dan perlahan mengalami degradasi orange cerah diakhiri batas warna kuning tipis pada bagian dada. Kenapa tidak lagi merah ? karena pigmen merah hanya ada pada mask atau topeng spesies Personatus sedangkan pada Lovebird Fischeri yang ada adalah pigmen Orange.

Pada mutasi Opaline Fisheri alias Biola orang orang cenderung lebih memilih burung berkepala merah dari pada orange. Suka atau tidak ? Percaya atau tidak ? Burung tersebut membawa pigmen merah yang hasil crossing dengan personatus. Yang seharusnya warna kepala Opaline Fischeri itu Orange Pekat. Dan kebanyakan Opaline Fischeri bermuka cemong, warna kepala lebih merah pekat.

Salam Breeder Lovebird Lover

Sumber :
Penulis Lovebird Malang Toko Bagong

Mengenal Lovebird Sable Head Lebih Dalam

Mengenal Lovebird Sable Head Lebih Dalam
Akhir akhir ini banyak diskusi di media sosial mengenai sable head (selanjutnya kita sebut sable). Lalu apa sebenarnya sable itu? Berikut adalah artikel dari Dirk Van den Abeele yang berjudul “Witkop fischeri - white headed fischeri”. Disini kita lebih mengenalnya dengan sebutan kepala putih (kepala elang). Artikel ini sudah melalui proses editing.
Lovebird Sable
Sebelum kita melangkah lebih jauh, satu hal penting yang harus anda ketahui adalah bahwa sable itu BUKAN mutasi, tapi merupakan suatu bentuk seleksi yang tidak bisa diterima dan tidak iinginkan (red: sesuai standard lomba BVA). Berdasarkan penelitian ilmiah, sekali lagi penelitian ilmiah, pada burung normal wild type Agapornis fischeri memang terdapat psittacin merah dikepala bagian belakangnya tapi hanya dalam jumlah yang sangat sangat sedikit. Selain itu, dari observasi langsung dilapangan terhadap burung yang hidup dialam liar diketahui bahwa 90% warna topengnya bukan berwarna merah tapi orange kemerahan.

Beberapa tahun yang lalu memang banyak yang lebih menyukai Agapornis fischeri yang memiliki topeng berwarna merah solid termasuk para juri. Untuk mendapatkan burung dengan penampilan seperti ini, maka para peternak lalu berlomba lomba mencari dan menyilangkan burung yang memiliki warna topeng paling merah. Sayangnya, tanpa mereka sadari bahwa dengan membuat topengnya menjadi merah, maka kepala bagian belakangnya juga ikut menjadi merah tapi tidak ada yang memperhatikan (tdak peduli) hal tersebut. Ketika mutasi NSL ino muncul ada spesies

Agapornis personatus, maka kembali banyak yang menginginkan topeng pada burung tersebut berwarna merah semerah merahnya. Untuk medapatkan warna merah itu, mereka menggunakan burung generasi F3 dan bahkan F2 hibrid (supaya anda mengerti, lutino pada A.personatus adalah hasiil transmutasi) sebagai indukan. Supaya kesalahan ini tidak berlanjut maka dibuatlah sebuah aturan yang menjelaskan bagaimana seharusnya bentuk yang sesuai dengan standard.

Warna merah yang berlebihan ini adalah efek dari menghilangnya eumelanin (pigmen gelap) dan digantikan oleh kehadiran psittacin sehingga membuat penampilan burung (fenotipe) menjadi tidak sesuai lagi dengan bentuk wild form. Yang terlihat adalah burung berwarna hijau yang bagian kepalanya nyaris semuanya berwarna merah. Jika burung ini disilang dengan burung seri biru, maka akan menghasilkan burung yang bagian kepalanya sudah kehilangan psittacin dan eumelanin. Yang terlihat adalah burung berwarna biru yang seluruh kepalanya berwarna putih.

Diakhir tahun 1990, untuk pertama kalinya ada peternak yang menjual burung berkepala putih ini saat berlangsungnya acara BVA Masters. Kemudian kami memberikan penjelasan kepada peternak tersebut mengenai burung yang ingin dia jual. Akhirnya burung tersebut memang terjual tapi pembelinya adalah orang luar negeri. Dan dinegeri barunya, burung tersebut diberi nama “sable” dan menurut mereka ini adalah mutasi baru. Ini adalah sejarah nama sable. Jadi anda harus paham apa yang dimaksud dengan sable. Padahal sable sama sekali BUKAN mutasi. Ada juga yang mengaitkan sable dengan pied (blorok). Pada mutasi pied dan juga beberapa tipe mutasi fallow memang terjadi reduksi eumelanin tapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sable.

Sekitrar enam tahun yang lalu, ada beberapa orang yang melihat burung “sable” ini di internet dan ingin mengimportnya ke Belanda. Saya berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan mereka agar tidak membeli burung tersebut. Tapi tentu saja saya tidak bisa meyakinkan semua orang. Tetap saja ada peternak yang tertarik untuk membeli burung sable ini karena katanya dia suka melihat penampilannya. Oleh peternak tersebut burung sable kepala merah ini kemudian dipasangkan dengan fischeri. Sungguh sangat disayangkan.

Oleh karena adanya standard baru yang mengatakan bahwa topeng fischeri green tidak boleh terlalu merah maka mereka lalu mengkombinasikannya dengan burung seri biru dan hasilnya dijual dengan nama white-heads (kepala putih atau kepala elang). Ini adalah sebuah nama yang bagus untuk fenotipe yang tidak bagus. Tapi harus kita akui bahwa ini semuanya berawal dari kesalahan penjurian dalam menilai burung fischeri hijau dimasa lalu yang sebenarnya bisa dihindari.

Jika anda masih ragu dengan apa yang saya ulas disini, anda bisa melakukan experimen. Coba pasangkan burung biru sable ini dengan fischeri wild form dan lihat apa hasil yang anda dapatkan. Bisa dipastikan anda akan mendapatkan hasil burung yang memiliki warna merah belebihan dibagian kepala dan tidak jarang karakteristik hibridnya kembali akan muncul. Mengapa harus kembali dipasangkan dengan burung seri hijau? Ini adalah untuk pembuktian. Untuk mempelajari dan meneliti sebuah mutasi, harus selalu dimulai dengan burung seri hijau agar anda tahu apa mutasi yang anda hadapi termasuk semua karakteristiknya. Jika anda bisa mentoleransi warna merah yang berlebihan dikepala fischeri, apakah selanjutnya anda juga bisa menerima personatus dengan dada merah dan bukan kuning?
Sumber: https://www.ornitho-genetics.info/?p=3481

Berdasarkan artikel diatas, ada beberapa point yang perlu anda perhatikan:
  1. Pahami dengan baik apa yang dimaksud dengan sable. 
  2. Sable adalah hibrid dan BUKAN mutasi. 
  3. Opaline adalah mutasi jadi jangan membandingkan opaline dengan sable yang bukan mutasi. 
  4. Sebagian mutasi pied (blorok) dan sebagian mutasi fallow mengalami reduksi eumelanin sehingga terlihat seperti sable tapi tidak ada hubungannya dengan sable karena pied dan fallow adalah mutasi sedangkan sable bukan. Sekali lagi, jangan membandingkan atau menghubung hubungkan mutasi dengan non mutasi. 
  5. Tulisan yang berdasarkan penelitian ilmiah ini hanya bertujuan sebagai pembelajaran dan bukan aturan. Jika menurut anda sable adalah burung bagus, silahkan anda teruskan proyek anda. Tidak ada yang melarang anda untuk beternak sable dan saya sangat menghormati pilihan anda.

Sumber :
Komunitas Lovebird Indonesia
Copyright © Lovebird Lovers Indonesia . All rights reserved. Template by CB. Theme Framework: Responsive Design